Heboh, senang, bangga dan banyak lagi ungkapan yang serupa tapi tidak mungkin dapat dituliskan dalam laman ini. Dalam rangka memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 di tahun 2019 ini SMA Negeri 2 Trenggalek mengikuti berbagai macam kegiatan. Diantaranya kegiatan etnic carnival yang menjadi icon kabupaten Trenggalek yang ditunggu-tunggu oleh berbagai lapisan masyarakat.

Beberapa hari terakhir ini keluarga besar SMA Negeri 2 Trenggalek terus sibuk mempersiapkan diri guna memberikan suguhan yang terbaik dan teristimewa bagi masyarakat Trenggalek. Pasalnya di tahun ini SMADA sebutan akrab SMA Negeri 2 Trenggalek ingin memberikan suguhan yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mengingat event ini sangat besar dan mampu menyedot animo masyarakat yang sangat banyak, maka SMA Negeri 2 Trenggalek tidak main-main dalam mempersiapkannya.

Sabtu pagi 3 Agustus 2019 mulai pukul 07.00 WIB seluruh jalanan protokol di Trenggalek sudah mulai dipenuhi oleh warga masyarakat yang akan menyaksikan sekaligus menjadi saksi kemeriahan event yang menjadi icon kabupaten Trenggalek ini. Mereka mulai berbondong-bondong dengan mengajak anak beserta keluarga besarnya menggelar tikar mengular di sepanjang pinggiran jalan protokol. Masyarakat yang hadir tidak hanya berasal dari wilayah kota, namun hampir dari seluruh wilayah kecamatan di Trenggalek ikut menikmatinya.

Tepat pukul 08.30 WIB kegiatan dimulai dan dibuka oleh Bapak Bupati Trenggalek. Setelah membuka acara, Bapak Bupati dan Ibu beserta seluruh jajaran Forkopimda langsung berjalan di barisan depan untuk mengawali giat etnic carnival tahun 2019 ini dengan memakai pakaian adat khas Trenggalek. Kegiatan ini dimulai dari lapangan kelurahan sumbergedong. Setelah para pimpinan berjalan berikutnya disusul para peserta tingkat SMA/SMK/MA, Dinas dan umum. SMA Negeri 2 Trenggalek menjadi peserta yang harus menunjukkan aksinya di urutan pertama.

Benderapun dikibarkan sebagai pertanda bahwa SMA Negeri 2 Trenggalek mulai berjalan. Diawali dengan barisan yang membawa identitas sekolah dan lambang Negara, keluarga besar SMADA yakin menapakkan kaki untuk menunjukkan aksinya di jalanan protokol Trenggalek. Berikutnya disusul dengan barisan Bhineka Tunggal Ika sebagai wujud pemersatu bangsa. Diawali dengan pulau Jawa yang dilambangkan dengan adanya sesepuh Jawa, pasukan berkuda, Gajah Mada, prajurit, Kereta Raja, Kereta selir dan dayang. Kemudian disusul dengan barisan pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusatenggara, Maluku serta Papua. Di barisan pulau Papua inilah terlihat istimewa, selain di setiap pulau dilengkapi dengan maket icon salah satu provinsi, tari beserta baju adatnya, khusus untuk Papua diikuti juga dengan barisan Bapak dan Ibu guru yang memakai pakaian adat Papua. Sehingga menambah menarik dan meriah barisan ini.

Setelah barisan Bhineka Tunggal Ika berikutnya disusul dengan barisan penggambaran tradisi dan adat masyarakat Trenggalek. Ada dua yang digambarkan di sini, yaitu upacara larung sembonyo yang sudah menjadi adat masyaraka nelayan Trenggalek. Dalam barisan ini ditampilkan maket tumpeng yang dibawa oleh para nelayan, barisan sesepuh, dayang, dan kanjeng Ratu Kidul yang menaiki kereta beserta prajuritnya. Yang kedua adalah barisan tradisi Trenggalek “rikala semana”. Dalam barisan ini SMADA menampilkan berbagai macam “dolanan” anak yang sekarang ini mulai memudar. Diantaranya dolanan egrang, cublak-cublak suweng, sepeda kecil, lompat tali, dakon, dor-doran dll. Selain itu dilengkapi juga dengan tradisi masyarakat umum “upakara” padi mulai dari “panen” dengan dibawa menggunakan senik kemudian dibersihkan dengan tampah dan ditumbuk dengan lesung.

Dilanjutkan dengan pelestarian cerita masyarakat Trenggalek. Tahun ini SMADA menyuguhkan fragmen dengan mengambil lakon cerita Trenggalek “SUMINTEN EDAN”. Fragmen ini menceritakan tentang perseteruan antara Warok Suromenggolo dan Warok Siman atau Gunoseco. Yang mana keduanya masing-masih memiliki putri cantik Suminten dan Cempluk yang sama-sama mencintai Raden Subrata putra Bupati Trenggalek. Karena cintanya begitu mendalam sampai Suminten “Edan”. Penampilan fragmen ini mampu memukau masyarakat Trenggalek terlebih ketika dilakonkan di depan panggung kehormatan. Bapak Bupati beserta jajaranpun terlihat sangat konsentrasi dan menikmati cerita ini. Fragmen yang dimainkan oleh siswa siswi SMADA ini memang sanggup menghipnotis dan membawa ingatan para penikmatnya untuk kembali ke kisah Trenggalek masa lalu. Sebagai penutup fragmen ini Suminten dan Cempluk memberikan persembahan dua buah judul buku fiksi karya siswa SMADA kepada Bapak Bupati dan Ibu.

Berikutnya disusul dengan barisan kesenian tradisional Trenggalek yaitu reog dan jaranan Turonggo yakso yang juga merupakan kesenian iconic masyarakat Trenggalek. Barisanpun ditutup dengan pasukan pengurus OSIS dan MPK yang merupakan calon-calon pemimpin generasi penerus bangsa.

Banyak hal yang dipersiapkan dan banyak hal yang disuguhkan oleh keluarga besar SMADA untuk masyarakat Trenggalek. Dengan kesungguhan dalam menyiapkannya dan dengan perjuangan yang maksimal, walhasil malam harinya SMA Negeri 2 Trenggalek ditetapkan oleh dewan juri sebagai  juara 1 (satu) Etnic Carnival tahun 2019 ini.

Ucapan terimaksih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu keberhasilan sekolah kami, kepada orang tua siswa, anak-anak yang menjadi kebanggaan SMADA, Bapak Ibu guru beserta karyawan, alumni dan masyarakat secara umum yang telah bekerjasama dengan baik untuk mewujudkan SMA Negeri 2 Trenggalek yang lebih baik.

Selamat untuk SMADA

Selamat untuk Kita Semua.